Rabu, 07 Mei 2008
MENGERTI Ataukah MENYADARI ?
Saya sebenarnya punya sebuah impian besar, yaitu: "Merealisasikan
kebahagiaan material dan spiritual bagi seluruh pegawai dan seluruh
manusia, serta memimpin usaha perdamaian di seluruh dunia." Ini
sepertinya menjadi sebuah obsesi saya, yang saya sendiri pun tidak
tahu apakah impian besar itu benar-benar bisa saya wujudkan kelak.
Ataukah hanya sebatas berupa cita-cita mulia yang terlintas di
pemikiran saya.
Tujuan utama saya adalah menolong sesama untuk hidup layak, dan
berbahagia dalam arti sebenarnya. Jika impian besar saya ini bisa
diwujudkan secara nyata, maka itu akan dapat meneguhkan dasar
kehidupan manusia secara luas, dan menentukan apakah kehidupan kita
sudah sesuai atau tidak, dalam mewujudkan manusia yang
berkepribadian unggul bagi diri sendiri, maupun untuk orang lain.
Saya sering mengemukakan tema berbeda-beda dalam menjelaskan "lorong-
lorong kehidupan" yang harus dan semestinya dilalui untuk membangun
kehidupan manusia. Oleh karenanya, saya berharap pada akhirnya dapat
memberikan kesadaran pada mereka yang salah jalan, menunjukkan
kesalahannya, menemukan kebenarannya, sehingga membuat mereka ini
mampu beradaptasi terhadap kebenaran ataupun kenyataan di kehidupan
ini.
Melalui pengalaman dan pengetahuan yang saya sadari juga masih
terbatas ini, maka impian besar saya ini anggap sebagai landasan
prinsip saya untuk berusaha membimbing dan menyadarkan mereka yang
membutuhkan dukungan untuk menjalani kehidupan dengan penuh
kebahagiaan sejati.
Oleh karena itu, untuk bisa mewujudkan impian besar saya tersebut,
hal pertama yang harus saya lakukan adalah, selain memikirkan
kehidupan saya sendiri beserta keluarga besar saya, maka saya
sedapat mungkin, sedikit demi sedikit berusaha untuk memahami
kebenaran hidup. Jika tidak demikian, saya merasa tidaklah mungkin
dapat hidup secara sempurna sebagai manusia. Singkat kata, maksud
saya tentang memahami kebenaran hidup adalah sama dengan seperti
saat kita mengusir orang-orang jahat yang menganiaya orang lemah.
Seandainya saya sebagai orang awam, yang hanya hidup dan bekerja
untuk uang saja, maka saya akan selalu berkata: "Jual lebih banyak…
dan semakin banyak lagi. Tingkatkan penjualan!", "Kurangi biaya
pengeluaran. Sedapat mungkin undurkan pembayaran jatuh tempo, kalau
perlu jangan dibayar!", "Tingkatkan efisiensi di setiap sektor
usaha!"
Dan, saya tidak perlu bersusah payah memikirkan hal-hal yang rumit
tentang orang lain. Jika saya hanya melakukan itu, memberikan
perintah "ini" dan "itu" saja, maka saya yakin, pasti akan memiliki
sejumlah perusahaan yang memiliki uang kontan terbanyak di negeri
ini. Akan tetapi, saya tidak mau berbuat demikian, dan selalu
menghindarinya, karena bagi saya kehidupan ini tidak sama dengan
uang.
Impian manusia bukanlah harta dan nama besar saja. Menurut saya,
impian manusia yang sebenarnya, dan merupakan tujuan serta misi
hidup adalah: "Mempersembahkan diri dengan segenap kemampuan yang
dimiliki untuk kebaikan manusia dan dunia."
Dalam menjalankan bisnis sebenarnya juga harus demikian. Namun,
bagaimanakah kenyataannya? Jika kita amati secara kasat mata, para
pengusaha dewasa ini, kalau mendapat "cek kosong" walaupun jumlahnya
sedikit, mereka bersikap seperti siput yang disiram garam, "megap-
megap" kehabisan nafas. Dan, ketika mendapat kerugian sedikit saja,
mereka mengeluh: "Waduh… Habislah saya. Saya tidak dapat
menanggungnya!", lalu melarikan diri.
Para pengusaha semacam itu ada dimana-mana, bagaikan jamur yang
tumbuh dan berkembang, dimana perekonomian sedang berkembang dan
menggelembung. Mereka ini hanya memiliki ambisi yang dibanggakan
pada permukaan luarnya saja, tetapi tidak memiliki keyakinan yang
cukup di dalam dirinya untuk bisa benar-benar meraih sukses.
Marilah kita merenungkan diri sejenak.
Selengkapnya, mohon untuk merenungkannya di blog saya ini:
http://wuryanano.wordpress.com/
by Wuryanano
Jumat, 25 April 2008
TUHAN 9 SENTI
Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tetapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok,
tetapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah...ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
'apakah ada buku tuntunan cara merokok'
Di angkot penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri, yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong
minta diajari pula merokok.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe, di diskotik para pengunjung merokok.
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur,
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin
paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekalipun asap tembakau itu
bisa ketularan kena.
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola,
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi,
orang-orang goblok merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi orang perokok,
tetapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat
merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan
yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil
yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk.
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat
lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Kamis, 24 April 2008
PRINSIP 90/10
PRINSIP 90/10
Oleh : STEPHEN COVEY
Bagaimana prinsip 90/10 itu ?
- 10% dari hidup anda terjadi karena apa yang langsung anda alami.
- 90% dari hidup anda ditentukan dari cara anda bereaksi.
Apa maksudnya ?
Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari kondisi yang terjadi pada diri
anda.
Contohnya :
Anda tidak dapat menghindar dari kemacetan. Pesawat terlambat datang dan
hal ini akan membuang seluruh schedule anda. Kemacetan telah menghambat
seluruh rencana anda. Anda tidak dapat mengontrol kondisi 10% ini.
Tetapi beda dengan 90% lainnya. Anda dapat mengontrol yang 90% ini.
Bagaimana caranya ? Dari cara reaksi anda !! Anda tidak dapat mengontrol
lampu merah, tetapi anda dapat mengontrol reaksi anda.
Marilah kita lihat contoh dibawah ini :
Kondisi 1
Anda makan pagi dengan keluarga anda. Anak anda secara tidak sengaja
menyenggol cangkir kopi minuman anda sehingga pakaian kerja anda
tersiram kotor. Anda tidak dapat mengendalikan apa yang baru saja
terjadi.
Reaksi anda :
Anda bentak anak anda karena telah menjatuhkan kopi ke pakaian anda.
Anak anda akhirnya menangis. Setelah membentak, anda menoleh ke istri
anda dan mengkritik karena telah menaruh cangkir pada posisi terlalu
pinggir diujung meja. Akhirnya terjadi pertengkaran mulut. Anda lari ke
kamar dan cepat-cepat ganti baju. Kembali ke ruang makan, anak anda
masih menangis sambil menghabiskan makan paginya. Akhirnya anak anda
ketinggalan bis. Istri anda harus secepatnya pergi kerja. Anda buru-buru
ke mobil dan mengantar anak anda ke sekolah. Karena anda telat, anda
laju mobil dengan kecepatan 80km/jam padahal batas kecepatan hanya boleh
60 km/jam. Setelah terlambat 15 menit dan terpaksa mengeluarkan kocek Rp
600.000,- karena melanggar lalu lintas, akhirnya anda sampai di sekolah.
Anak anda secepatnya keluar dari mobil tanpa pamit. Setelah tiba di
kantor dimana anda telat 20 menit, anda baru ingat kalau tas anda
tertinggal di rumah. Hari kerja anda dimulai dengan situasi buruk. Jika
diteruskan maka akan semakin buruk. Pikiran anda terganggu karena
kondisi di rumah.
Pada saat tiba di rumah, anda menjumpai beberapa gangguan hubungan
dengan istri dan anak anda. Mengapa ? .... Karena cara anda bereaksi
pada pagi hari.
Mengapa anda mengalami hari yang buruk ?*
1. Apakah penyebabnya karena kejatuhan kopi ?
2. Apakah penyebabnya karena anak anda ?
3. Apakah penyebabnya karena polisi lalu lintas ?
4. Apakah anda penyebabnya ?
Jawabannya adalah No. 4 yaitu penyebabnya adalah anda sendiri !! Anda
tidak dapat mengendalikan diri setelah apa yang terjadi pada cangkir
kopi. Cara anda bereaksi dalam 5 detik tersebut ternyata adalah penyebab
hari buruk anda.
Berikut adalah contoh yang sebaiknya atau seharusnya anda sikapi.
Kondisi 2
Cairan kopi menyiram baju anda. Begitu anak anda akan menangis, anda
berkata lembut : "Tidak apa-apa sayang, lain kali hati-hati ya." Anda
ambil handuk kecil dan lari ke kamar. Setelah mengganti pakaian dan
mengambil tas, secepatnya anda menuju jendela ruang depan dan melihat
anak anda sedang naik bis sambil melambaikan tangan ke anda.
Anda kemudian mengecup lembut pipi istri anda dan
mengatakan : "Sampai jumpa makan malam nanti." Anda datang ke kantor 5
menit lebih cepat dan dengan muka cerah menegur staff anda. Bos anda
mengomentari semangat dan kecerahan hari anda di kantor. Apakah anda
melihat perbedaan kedua kondisi tersebut ?
2 (dua) skenario berbeda, dimulai dengan kondisi yang sama, diakhiri
dengan kondisi berbeda.
Mengapa ?
Ternyata penyebabnya adalah dari cara anda bereaksi ! Anda tidak dapat
mengendalikan 10% dari yang sudah terjadi. Tetapi yang 90% tergantung
dari reaksi anda sendiri.
Ini adalah cara untuk menerapkan prinsip 90/10. Jika ada orang yang
mengatakan hal buruk tentang anda, jangan cepat terpancing. Biarkan
serangan tersebut mengalir seperti air di gelas. Anda jangan membiarkan
komentar buruk tersebut mempengaruhi anda.
Jika beraksi seadanya atau salah reaksi maka akan menyebabkan anda:
kehilangan teman, dipecat, stress dan lain-lain yang merugikan.
Bagaimana reaksi anda jika mobil anda mengalami kemacetan dan terlambat
masuk kantor ? Apakah anda akan marah ? Memukul stir mobil ? Memaki-maki
? Apakah tekanan darah anda akan naik cepat ? Siapa yang peduli jika anda datang
telat 10 detik ? Kenapa anda biarkan kondisi tersebut merusak hari anda? Cobalah ingat
prinsip 90/10 dan jangan khawatir, masalah anda akan cepat
terselesaikan.
Contoh lain :
- Anda dipecat.
Mengapa anda sampai tidak bisa tidur dan khawatir ? Suatu waktu akan
ada jalan keluar. Gunakan energi dan waktu yang hilang karena
kekhawatiran tersebut untuk mencari pekerjaan yang lain.
- Pesawat terlambat. Kondisi ini merusak seluruh schedule anda. Kenapa
anda marah-marah kepada petugas tiket di bandara ? Mereka tidak dapat
mengendalikan terhadap apa yang terjadi. Kenapa harus stress ? Kondisi
ini justru akan memperburuk kondisi anda. Gunakan waktu anda untuk
mempelajari situasi, membaca buku yang anda bawa, atau mengenali
penumpang lain.
Sekarang anda sudah tahu prinsip 90/10. Gunakanlah dalam aktivitas
harian anda dan anda akan kagum atas hasilnya. Tidak ada yang hilang dan
hasilnya sangat menakjubkan.
Sudah berjuta-juta orang menderita akibat stress, masalah berat, cobaan
hidup dan sakit hati yang sebenarnya hal ini dapat diatasi jika kita
mengerti cara menggunakan prinsip 90/10.
NIKMATILAH HIDUP INI !!
ENJOY YOUR LIFE........!!!
Keiretsu Jepang
Keiretsu Jepang
Angsa Itu Mulai Beranak Elang
Keiretsu yang dapat diartikan sebagai Perkongsian ini sebenarnya
merupakan strategi Jepang dalam berbisnis automotif di seluruh dunia.
Caranya adalah para perusahaan besar automotive memiliki share di
perusahaan-perusahaan lain yang merupakan groupnya, misal Toyota
Group, ada Toyota Motor Company, Toyota Tsusho Indonesia, Toyota
Engineering dll.
Perusahaan besar Jepang tersebut kemudian bekerjasama dengan banyak
perusahaan local di seluruh dunia untuk produksi komponen, stamping,
hingga perakitan but mostly dengan raw material adalah imported dari
steel mills Jepang seperti Nippon Steel, Kawasaki Steel yang notabene
steel producer ini juga memiliki share di Toyota Group. Disinilah
letak "Keiretsu" nya Jepang, mereka akan tetap menomorsatukan raw
material yang berasal dari group mereka sehingga perekonomian mereka
tetap bergerak. Komposisi Krakatau Steel sebagai local content
hanyalah sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali.
Kita cukup kebablasan dengan di ambil alihnya kepemilikan saham astra
di TAM oleh Toyota Motor Company Jepang untuk kemudian berganti nama
menjadi TMMC, Toyota Motor Manufacturing Company. Akibat dari hal ini
secara financial adalah retain earning perusahaan lari ke Jepang
semuanya, secara moral pekerja Indsonesia seperti menjadi tamu di
negeri sendiri dan secara operasional peningkatan local content
Krakatau Steel yang diperjuangkan Astra tidak lagi terdengar.
Morale of the story adalah peraturan pemerintah yang memberikan
kebebasan perusahaaan asing untuk memiliki 100% saham di Indonesia
telah menjadi bumerang. Steel producer Indonesia yang seharusnya bisa
memberikan kontribusi lebih kepada industri otomotif Indonesia tidak
berjalan mulus, padahal bila menggunakan material Krakatau Steel kita
terhindar dari import duti yang tinggi sehingga harga mobil tidak
perlu seperti sekarang ini.
Secara resmi zaibatsu (financial cliques) yang melahirkan keiretsu
(corporate groups), memang pernah dilarang saat Jepang diduduki oleh
Amerika Serikat. Namun ketika kekuatan ekonomi Jepang mulai membaik sekitar tahun
1960-an-1970-an, zaibatsu bangkit lagi. Dunia bisnis Jepang kembali
membuat pengelompokan seperti yang pernah ada pada masa sebelum perang. Namun
berbeda dengan zaibatsu yang lebih jelas, keiretsu bersifat agak
samar-samar.
Selama ini, para perencana ekonomi atau badan pengembangan teknologi dan
ilmu pengetahuan di negara-negara berkembang, sepertinya tidak pernah
memeriksa berapa jumlah perusahaan yang mendukung, perusahaan besar Jepang
untuk menghasilkan sebuah produk. Bila penelitian ini pernah dilakukan,
tidak mustahil sejak awal mereka bisa mengetahui bahwa alih teknologi dari
Jepang tidak akan pernah terjadi. Mereka akan sadar bahwa pemindahan
kegiatan industri Jepang ke negara-negara berkembang, tak lebih hanyalah
sekadar penyewaan lokasi untuk pabrik dan tenaga buruh, terutama
sehubungan dengan yendaka.
Gambaran lebih gampang bagaimana cara melihat bentuk keiretsu ini
beroperasi, dapat dilihat jelas dari geliatan bisnis Jepang yang ada di
industri otomotif dan elektronik, yang memiliki ratusan sampai ribuan mata
rantai perusahaan. Dari situ akan terlihat bagaimana imposible-nya
negara-negara berkembang melakukan alih teknologi tersebut.
Gampangnya, ada satu negara berkembang ingin melakukan alih teknologi
elektronika TV atau mobil, maka negara ini tak cukup hanya membawa satu
perusahaan saja untuk masuk ke negaranya dan kemudian bisa terjadi alih
teknologi. Tetapi harus membawa ratusan atau ribuan perusahaan yang
tersubordinasi atau yang menjadi pendukung perusahaan utama tersebut.
* * *
PERTANYAAN besarnya, apakah mungkin pemindahan atau pembuatan semacam
duplikat dari mata rantai perusahaan-perusahaan sebanyak itu. Ini baru
satu persoalan saja, yakni pemindahan perusahaan saja, belum termasuk alih
teknologi.
Dalam kasus Toyota misalnya, sebuah studi menyebutkan bahwa lapisan atas
struktur organisasi piramida Toyota, tersusun oleh 10 perusahaan
subkontraktor utama. Di luar ini ada dua lagi perusahaan lain, tapi tidak
berkaitan dengan kegiatan manufakturing. Total perusahaan pada lapisan
atas berjumlah 12 unit. Namun jumlah tersebut masih di tambah lagi oleh dua
perusahaan, yang dalam kesan umum sering dirasakan sebagai saingan
Toyota di pasaran mobil, yakni Daihatsu Motors dan Hino Motors yang dikonsentrasikan
pada truk.
Pada lapisan menengah piramida itu terdapat pula dua grup pembuat
komponen. Masing-masing adalah kyoho-kai (Toyota cooperative association), yang
terdiri dari 183 perusahaan dan kemudian Eiho-kai (Toyota Prosperity
Association), yang terdiri dari 65 perusahaan. Totalnya 248
perusahaan, ini baru perusahaan yang nampak dalam keiretsu Toyota.
Di bawah perusahaan-perusahaan ini masih terdapat pula beberapa angkatan
perusahaan dalam urutan hirarki, yang masing-masing terdiri pula dari
ratusan perusahaan. Namun berapa pastinya jumlah perusahaan yang ada dalam
jaringan keiretsu Toyota, barangkali hanya Toyota sendiri yang tahu.
Semua ini memang hanyalah gambaran yang tidak sepenuhnya utuh, namun
minimal mendekati kebenaran mengenai otomotif Toyota. Sebab di luar gambaran ini
masih ada pula jaringan distribusi yang mencapai 4.750 perusahaan.
Seperti yang ada dalam bayangan orang pada umumnya, sekadar untuk membuat
kaca spion saja, perusahaan-perusahaan industri mobil Jepang
memerlukan tiga atau empat perusahaan kecil. Perusahaan terakhir melakukan tugas untuk
merakit hingga menjadi spion. Keempat perusahaan ini tak mungkin sendiri,
karena satu sama lain merupakan dari rangkain sistem.
Ciri semacam ini bukan khas dominasi dari Toyota, tetapi merupakan
khas dari seluruh perusahaan besar di Jepang. Matsushita misalnya, memiliki
rantai 160 perusahaan, yang masing-masing perusahaan memiliki lagi mata rantai kecil
hingga yang paling kecil yang tidak sedikit jumlahnya. Demikian juga
dengan Sony, Hitachi, dan Mitsubishi, semua mengikuti pola seperti itu.
Sebuah contoh konkret tentang berlakunya aturan main tersebut adalah, soal
terbakarnya pabrik rem milik Toyota di Perfektur Aichi beberapa bulan
lalu. Akibat tidak mungkinnya Toyota memperoleh suplai dari luar
jaringannya, maka perusahaan ini harus menghentikan produksi beberapa hari. Akibatnya Toyota
menderita kerugian milyaran yen, karena harus menunggu salah satu
pensuplai dari lingkungan sendiri memproduksi komponen rem yang diperlukan.
* * *
KEMBALI dalam hubungan antara Jepang dan mitra dagangnya selama ini, jelas
terlihat bahwa pengejaran oleh angsa yang berada di belakang dalam kawanan
angsa menurut flying geese model jelas tidak akan pernah terjadi. Ini
belum lagi jika faktor-faktor lain ikut diperhitungkan sebagai misal, sikap
perusahaan-perusahaan Jepang yang ada kalanya, jelas-jelas menghalangi
negara berkembang untuk melangkah sendiri atau menyalahi garis yang
ditetapkan.
Kasus pengembangan teknologi Mazda tua yang berhasil dilakukan KIA dari
Korsel pada pertengahan tahun 1980-an yang akhirnya menimbulkan kekecewaan
KIA, karena Mazda menolak memberi restu atas teknologi tersebut. Masih
dalam konteks Korsel, dalam industri semi konduktor, sering kali dikatakan koran
bahwa Korsel telah mengalahkan Jepang.
Tapi di luar cerita di koran-koran, ilmuwan Korsel sendiri mengeluh bahwa
akibat ketergantungan pada Jepang, total hasil keuntungan dari penjualan
semi konduktor tersebut ternyata lebih besar dikantungi Jepang
beberapa kali lipat daripada Korsel-nya sendiri.
Barangkali ketidakpuasan yang kini mulai timbul di negara-negara mitra
Jepang di Asia, terutama sekali dalam hal alih teknologi, apakah tidak
mungkin bahwa industri yang ada di negara berkembang tersebut adalah
jaringan keiretsu Jepang. Kalau perkiraan ini salah, pertanyaan yang
timbul selanjutnya, melihat dasar dan rumitnya jaringan keiretsu, serta
aturan atau komitmen-komitmen yang dipegang teguh para anggota, tampaknya hampir
mustahil bagi negara berkembang untuk bisa tumbuh menjadi kekuatan
industri yang mandiri.
Kalau hanya sekadar dilihat dari sisi menumbuhkan lapangan kerja baru,
barangkali kehadiran perusahaan Jepang bisa dianggap bermanfaat. Sisi
lainnya hanya sekadar untuk memperoleh wahana latihan dalam sistem
industri modern, walau hanya sepotong-sepotong.
Jadi sangat keliru jika hubungan bisnis yang terjalin melalui investasi
Jepang di Indonesia selama ini, merupakan rumus efektif untuk memaksa
Jepang melakukan alih teknologi. Setelah proses itu terjadi, kemudian negara
berkembang itu sendiri menjalankan berbagai proses produksi dari awal
hingga akhir. Padahal dalam sistem keiretsu, ibaratnya semua itu tak lebih
hanyalah tangan perusahaan Jepang yang ada di negara berkembang, dari ribuan tangan
yang mengenggam kepingan teknologi dari produk yang dihasilkannya.
Proses tak terjadinya alih teknologi dalam industri otomotif nasional,
sekali pun telah bermitra seperempat abad dengan Jepang, tidak perlu
ditanggapi sebagai kekecewaan. Masalah itu sebenarnya sudah harus disadari
sejak awal, bahwa hal itu memang tidak mungkin pernah terjadi. Kita telah
kehilangan waktu sekitar seperempat abad, karena ketidakjelian lembaga
terkait dalam membaca "nafas bisnis" Jepang yang sesungguhnya yang tetap
berobsesi ingin menjadi saudara tua, cahaya dan pelindung bagi Asia.
Bila ingin menguasai teknologi dan akhirnya menjadi mandiri, Indonesia
mungkin bukan harus menjadi angsa yang adem dan terbang lembut di belakang
dalam formasi huruf "V" terbalik itu. Melainkan harus berubah menjadi
elang yang tangguh. Namun untuk menjadi elang yang tangguh harus ada kepastian
hukum, permainan yang adil dan kompetitif, tidak membuang peluang, menjaga
kewibawaan, performance yang bagus, kesungguhan, serius, dan tidak
menganggap segala sesuatunya sebagai barang mainan sesaat.
Tetapi harus dilihat sebagai sesuatu peluang besar untuk membawa
bangsa ini menjadi mandiri, karena waktu, tenaga, dana dan kehormatan yang
dipertaruhkan untuk menjadi elang itu sudah terlalu besar dikeluarkan.
Kalau semua pengorbanan yang dilakukan oleh seluruh masyarakat ini tak diimbangi
dengan kemampuan yang maksimal, bukan saja si induk angsa beserta
rangkainnya yang menghantamnya, tetapi juga kolega angsa itu ikut
menghantamnya. (Banu Astono/ Yusron Ihza)
Sumber : Kompas
Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now
Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now
Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tip sukses saya,
mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi saya bukanlah
ketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerima pujian untuk
artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka di Inggris Raya.
Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil juga membeli rumah di
San Francisco Bay Area dengan keringat sendiri setelah hampir sepuluh
tahun merantau di Negeri Paman Sam.
Sukses bagi saya adalah mindset. Sukses adalah saya; saya adalah sukses.
Sukses bukan tujuan, bukan pula perjalanan. Success is about being dan
becoming.
Berani dan overconfident kedengarannya? Mungkin, yang jelas ribuan
bahkan jutaan manusia "sukses" di dunia alias manusia bermental juara
mempunyai mindset seperti ini.
Apakah Anda perlu menjadi juara tenis tingkat Wimbledon atau juara golf
profesional di PGA Pebble Beach untuk disebut "sukses"? Apakah Anda
perlu mengendarai Corvette dan Lexus SUV hybrid? Jelas tidak.Seorang
bermental juara alias bermindset "orang sukses" bisa jadi hanyalah
seorang salesman saja.
Ambillah contoh Bill Porter, seorang salesman door-to-door dari
Portland, Oregon yang terlahir dengan cerebral palsy. Ia berjalan kaki
setidaknya 10 mil perhari selama 40 tahun dengan tertatih-tatih setiap
hari tanpa mengeluh. Hebatnya, karena tubuhnya bagian kiri tidak bekerja
sebagaimana orang normal, ia sebenarnya sangat sulit untuk berjalan
tegak dan berbicara dengan jelas. (Baca www.billporter.com
<http://www.billporter.com/> , filem Door to Door dan buku berjudul Ten
Things I Learned from Bill Porter oleh Shelly Brady.) Dengan penghasilan
pas-pasan dari seorang salesman rumah ke rumah, jelas di mata orang awam
ia tidaklah termasuk kategori "sukses secara finansial."
Namun, bagi saya, Bill Porter adalah salah satu orang paling sukses di
dunia yang amat sangat saya kagumi. Salah satu cita-cita saya adalah
bertemu muka dengan beliau suatu hari.
Nah, lantas apa resep 10 tip sukses concoction ala Jennie?
Satu, bersyukurlah atas hari ini. "Just to be alive is a grand thing,"
kata Agatha Christie, salah satu novelis detektif terkemuka. Jauhkanlah
perasaan depresi dan sedih tanpa juntrungan. Jalani setiap hari dengan
hati penuh syukur. Ingatlah akan Bill Porter. Kalau dia bisa jadi
seorang salesman berhasil, apapun yang Anda inginkan sebenarnya pasti
bisa tercapai.
Dua, belajarlah seakan-akan Anda akan hidup selamanya, hiduplah
seakan-akan Anda akan mati besok. Mohandas Gandhi pernah berkata
demikian, "Live as if you were to die tomorrow, learn as if you were to
live forever." Belajar terus, upgrade diri terus dengan berbagai cara
baik yang memerlukan effort maupun effortlessly.
Tiga, setiap ketrampilan pasti ada penggunanya. Ini saya dapat dari
salah satu sahabat saya seorang wanita blonda dari San Diego. Sahabat
saya Crystal ini pernah membesarkah hati saya, "There are all kinds of
writers, there are all kinds of readers." Ketika saya down karena merasa
incompetent bertarung dengan penulis-penulis lokal di sini, Crystal
mengingatkan bahwa setiap jenis penulis pasti ada pembacanya (niche).
Find your niche, so you find your place in the world.
Empat, bukalah jalan sendiri, orisinil. Ralph Waldo Emerson once said,
"Do not go where the path may lead, go instead where there is no path
and leave a trail." Jangan latah mengikuti orang lain, dengar kata
hati dan ikutilah jalan yang belum kelihatan.
Lima, belajar mencintai apa yang Anda punyai, bukan berangan-angan akan
apa yang Anda tidak miliki. Use whatever you have at hand, impian hanya
akan menjadi nyata kalau Anda menggunakan instrumen yang kasat mata saat
ini juga.
Enam, lihat apa yang kelihatan dan lihat apa yang belum kelihatan.
Gunakan visi dan misi untuk mengenal apa yang Anda tuju. Seringkali, apa
yang belum kelihatan adalah blue print untuk sukses Anda. Begitu
kelihatan, ia akan menjadi semacam de ja vu.
Tujuh, telan kepahitan hidup dan bersiap-siaplah dalam menyongsong hari
baru. Setiap hari adalah hari baru. Bangunlah tiap pagi dengan hati yang
curious akan apa yang akan Anda alami hari itu. Be excited,
be courageous to start the day.
Delapan, semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akan menerima.
The more you give, the more you get in return. Dalam marketing, ini
mungkin disebut sebagai taktik public relations atau publicity. Namun,
dalam kehidupan sehari-hari, ini juga berlaku tanpa diselipi dengan
iming-iming tertentu. Saya sendiri sudah membuktikannya. Semakin banyak
kita memberi (dalam arti luas, tidak terbatas uang dan materi), semakin
besar penghargaan dan berkat yang kita terima.
Sembilan, jadilah mentor diri sendiri. What would Oprah do? Itu yang
saya pakai sebagai ukuran. Saya tidak memilih Nabi atau pembesar negara,
namun seorang wanita berkulit berwarna yang telah membalikkan nasibnya
sendiri menjadi salah satu orang berpengaruh di dunia.
Sepuluh, saya eksis dengan maupun tanpa tubuh saya. Setidak-tidaknya
sekali sehari, saya mengingatkan diri sendiri bahwa hidup ini bukanlah
untuk selamanya. Maka berbuatlah terbaik pada saat ini juga. Jangan
tunggu-tunggu lagi. "Just do it," kata Cher di Farewell Concertnya
beberapa tahun yang lampau. I do my best every chance I have. Berbuatlah
terbaik di setiap kesempatan, karena itu mungkin yang
terakhir.
Ingatlah sukses bukanlah tujuan, bukan pula perjalanan. Sukses adalah
mindset. Bukan hanya cogito er go sum (saya berpikir maka saya ada),
namun sum ego prosperitas (sukses adalah saya).
Sumber: Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now by Jennie S. Bev.
Rabu, 23 April 2008
EKSOTIK
EKSOTIK
Oleh Kafia Kurnia
Entah kenapa Bali selalu punya aura tersendiri. Seperti pesona sihir yang
magis. Teman saya yang keranjingan tiap bulan ke Bali mengatakan: "Menghirup
udara Bali saja sudah beda banget!" Dan saya selalu tertawa bila
mengingatnya. Kemarin ketika saya tiba di Bali, dan keluar dari airport, hal
pertama yang saya lakukan adalah mengambil nafas dalam-dalam, dan menghirup
habis udara Bali. Memang terasa kelegaan yang luar biasa.
Saat ini Bali kembali marak. Jumlah turis naik terus. Pokoknya semua
kelesuan sejak peristiwa bom Bali terdahulu mulai sirna satu demi satu.
Kalau anda lewat di Kuta, memang banyak terlihat toko yang tutup. Ini
normal. Siklus bisnis yang terus berputar. Karena banyak juga terlihat
berbagai toko yang sedang direnovasi. Patah satu tumbuh seribu. Yang jelas
Bali sedang mengalami sebuah transformasi yang berbeda. Perubahan baru.
Bisnis villa misalnya sedang marak bukan main. Dimana-mana kini kita jumpai
agent property yang ramai menjual villa. Pokoknya punya villa di Puncak buat
orang Jakarta sudah kuno. Yang diburu kini adalah villa bergaya resort di
Bali.
Bukan saja investor domestik yang tergila-gila dengan villa di Bali, tapi
juga investor dari manca negara. Malah kini Bali dijadikan target tempat
pensiun oleh sejumlah pensiunan dari manca negara. Seorang pengusaha
supermarket produk-produk Jepang mengaku bisnisnya lumayan maju karena
banyaknya pensiunan Jepang yang tinggal di Bali. Seorang teman yang sudah
tinggal di Paris selama 35 tahun akhirnya kembali ke Indonesia dan pensiun
di Bali. Ia kini membuka warung masakan Indonesia kecil-kecilan di Sanur.
Lalu apa sih daya tarik Bali yang sesungguhnya ? Buat strategi pemasaran
Bali jelas ini penting sekali. Karena menentukan positioning Bali yang
sesungguhnya. Iseng-iseng beberapa guide di Bali saya interview. Untuk
mendapatkan "insight" yang pas tentang daya tarik Bali yang sesungguhnya.
Kebanyakan diantara mereka tidak bisa menjawab langsung. Jawabannya
standard, seperti keindahan Bali, pantainya, udaranya, budayanya, dsbnya.
Satu kata yang pas itulah € ’¶ yang membuat saya penasaran banget.
Beberapa pemandu turis bercerita bahwa turis yang datang ke Bali memang
punya minat yang bermacam-macam. Pernah seorang Yakuza datang ke Bali, dan
minta dicarikan makanan atau masakan yang paling eksotik. Sang pemandu turis
ini bingung bukan main. Karena menurut sang Yakuza, beliau sudah makan
segala macam makanan yang aneh-aneh. Mulai dari ular berbisa, otak monyet,
penis rusa hingga telapak macan. Dalam situasi yang kepepet inilah, akhirnya
secercah ide muncul tiba-tiba. Dan sang Yakuza dibawa kesebuah restoran
seafood, dan diajak makan kodok batu yang digoreng. Lengkap dengan ritual,
dimana sang Yakuza bisa melihat sang kodok disembelih. Rupanya memang sang
Yakuza seumur hidupnya belum pernah makan kodok goreng mentega. Malam itu
berlangsung meriah, sang Yakuza betul-betul menikmati Bali dan memuji Bali
berkali-kali. Dan kata yang masuk kedalam kepala saya adalah satu kata € ’¶
eksotik.
Ungkapan Bali yang eksotik saya rasakan pada malam harinya. Saya diundang
oleh arsitek beken Indonesia Sindhu Hadiprana, untuk menyaksikan kolaborasi
musik fusi gabungan antara okestra gamelan Semar Pegulingan dengan orkestra
bambu Jegog dari Jembrana. Konon kabarnya wilayah Jembrana didirikan sekitar
tahun 1400'an. Wilayahnya termasuk mulai dari pelabuhan Gilimanuk hingga
pantai Medewi. Dan kota terbesarnya adalah Negara. Jembrana konon kabarnya
tidak pernah menjadi wilayah penting dan strategis untuk diperebutkan. Malah
pernah dalam satu periode wilayah ini diperintah oleh seorang pangeran dari
Sulawesi. Tak heran apabila disini muncul orkestra gamelan yang mirip
kolintang yang terbuat dari bambu dan disebut Jegog.
Orkestra gamelan Semar Pegulingan di Ubud, konon mulai diperkenalkan sejak
tahun 1700'an, sebagai alternatif musik yang lebih manis dan kalem dibanding
orkes gamelan Gong Kebyar yang lebih progresif dan enerjik. Orkestra gamelan
Semar Pegulingan konon terinspirasi oleh orkestra gamelan Gambuh yang
memiliki sejumlah peniup suling. Di orkestra gamelan Semar Pegulingan
biasanya juga ada 6 peniup suling. Nah kedua musik gamelan ini dipromosikan
oleh Sindhu Hadiprana untuk di fusikan. Persis konsep fusi Yin dan Yang.
Semar Pegulingan yang didominasi gamelan logam penuh gemercing menarikan
nada-nada dinamis. Dan Jegog yang terdiri dari bambu menarikan nada-nada
kelembutan yang mistik. Keduanya menjadi irama musik yang sulit dilukiskan
kecuali dengan satu kata € ’¶ Eksotik ! Barangkali eksotik adalah kata yang
kita cari selama ini. Indonesia yang sangat beragam, mirip sebuah selimut
perca yang tak pernah habis terurai dan selesai didongengkan. Eksotik adalam
fantasi dan imajinasi yang menyatu, membuat Indonesia unik dalam segalanya.
Mengenal Sistem Produksi Tepat Waktu (Just In Time System)
Mengenal Sistem Produksi Tepat Waktu (Just In Time System)
I. Sistem Produksi Barat
Sistem produksi yang paling banyak dipakai saat ini adalah yang berasal
dari Eropa dan Amerika. Sistem produksi tersebut dikenal sebagai sistem
produksi western. Ciri-ciri dari sistem produksi ini antara lain:
* melakukan peramalan dalam menentukan kuantitas produksi,
* melakukan optimasi dalam penjadwalan produksi, penentuan kebutuhan
bahan,
* penentuan kebutuhan mesin, pekerja, dll.
* terdapatnya departemen pengendalian kualitas,
* terdapatnya gudang receiver dan gudang warehouse sebagai penyimpan
* persediaan, dll.
Secara garis besarnya adalah masih terdapatnya unsur- unsur
probabilistik
dalam melakukan keputusan untuk masalah-masalah sistem produksi.
Filosofi
dasar dari sistem produksi western adalah bagaimana mengoptimalkan
unsur-unsur sistem produksi yang tersedia. Hal ini memungkinkan karena
negara-negara barat waktu itu masih memiliki resourcess yang cukup
banyak.
Pada tahun 1970-an terjadi krisis minyak bumi yang sangat mempengaruhi
industri-industri barat sebagai consumer terbesar. Sedangkan Jepang
tidak
begitu terpengaruh krisis tersebut karena Jepang sudah biasa hemat dalam
menggunakan resources khususnya minyak bumi. Akibatnya industri-industri
barat mengalami kemerosotan sedangkan sebaliknya di Jepang justru mulai
muncul.
Pada tahun 1980-an sistem produksi jepang mulai menunjukkan
keunggulan-keunggulannya sedangkan barat justru baru mulai
merekonstruksi
dan merestrukturisasi sistem produksinya baik melalui teknik-teknik
produksinya maupun manajemennya. Pada tahun 1990-an Jepang nampak
berkembang
pesat dan jauh meninggalkan Eropa ataupun Amerika.
II. Sistem Produksi Jepang
Sistem produksi Jepang dikenal dengan nama Sistem Produksi Tepat-Waktu
(Just In Time). Filosofi dasar dari sistem produksi jepang (JIT) adalah
memperkecil ke mubadziran (Eliminate of Waste). Bentuk kemubadziran
antara
lain adalah
Kemubadziran dalam Waktu, misalnya ada pekerja yang menganggur (idle
time),
mesin yang menganggur, waktu transport dalam pabrik tidak efisien,
jadwal
produksi yang tidak ditepati, keterlambatan material, lintasan produksi
yang
tidak seimbang sehingga terjadi bottle-neck, terlambatnya pengiriman
barang,
banyak-nya karyawan yang absen, dsb.
Kemubadziran dalam Material, misalnya terlalu banyak buangan (scraps,
chips) akibat proses produksi, banyak terjadi kerusakan material atau
material dalam proses, banyaknya material yang hilang, material yang
usang,
nilai material yang menurun akibat terlalu lama disimpan, dll.
Kemubadziran dalam Manajemen, misalnya terlalu banyak karyawan kantor,
banyak terjadi mis-informasi antar departemen, banyaknya overlapping
dalam
penugasan, pelaksanaan tugas yang tidak efektif, sulit dalam koordinasi,
dll. Jepang melakukan eliminate of waste karena jepang tidak punya
resources
yang cukup. Jadi dalam setiap melakukan pengambilan keputusan terutama
untuk masalah produksi selalu menganut kepada prinsip efisiensi,
efektifitas
dan produktivitas.
Untuk dapat melaksanakan eliminate waste Jepang melakukan strategi
sebagai
berikut :
- Hanya memproduksi jenis produk yang diperlukan
- Hanya memproduksi produk sejumlah yang dibutuhkan
- Hanya memproduksi produk pada saat diperlukan.
Tujuan utama dari sistem produksi JIT adalah untuk dapat memproduksi
produk
dengan Kualitas (quality) terbaik, Ongkos (cost) termurah, dan
Pengiriman
(delivery) pada saat yang tepat, dan disingkat QCD. Tujuan utama ini
bisa
dicapai jika ketiga unsur berikut dapat dilaksanakan secara terpadu,
yaitu
Melakukan pengendalian kuantitas dengan baik.
Untuk dapat menentukan kuantitas yang tepat maka diperlukan sistem
informasi
yang baik. Sistem informasi untuk memproses produk tersebut di Jepang
dikenal dengan istilah Kanban (kartu berjalan). Pelaksanakan
pengendalian
kuantitas akan berjalan dengan baik jika didukung oleh suplier dan
consumer
yang pasti dan tepat waktu. Jika hal ini dapat dilakukan maka kita akan
dapat mengeliminir waste dalam material sehingga konsep Zerro Inventory
dapat dilaksanakan.
Melakukan pengendalian kualitas dengan baik.
Dalam melakukan pengendalian kualitas di Jepang dikenal dengan istilah
TQC
(Total Quality Control). Tujuannya adalah untuk dapat memenuhi konsep
Zero
Defect. Didalam sistem produksi di jepang tidak ada departemen
pengendalian
kualitas, tetapi yang ada adalah Quality Assurance (jaminan kualitas).
Konsep zero defect tersebut akan dapat berjalan dengan baik jika para
pekerja diberi kewenangan (otonomi), agar tidak memberikan hasil produk
yang
tidak baik ke rekan kerja berikutnya sehingga tidak menyusahkan pekerja
lainnya.
Menjunjung tinggi harkat kemanusiaan karyawan. Didalam sistem produksi
dikenal 5 faktor produksi yang penting agar produksi dapat berjalan
dengan
baik yang dikenal dengan istilah Lima M, yaitu Man, Machine, Material,
Money, dan Method. JIT tidak ingin menganggap Man hanya sebagai salah
satu
faktor produksi saja, tetapi lebih dari itu yakni ingin mengangkat
harkat
karyawan sehingga karyawan tersebut merasa memiliki sebagian dari
perusahaan. Untuk dapat melakukan ini ada 3 cara, yaitu :
a. Otonomi (kewenangan).
Karena karyawan sebagai pelaku dan penentu dalam proses produksi maka
perlu
kewenangan sehingga dapat mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan
batasan tugas dan tanggungjawabnya.
b. Flexibility
Karyawan perlu mengetahui dan bisa melakukan pekerjaan- pekerjaan lain
diluar pekerjaannya. Hal ini dilakukan agar dapat mengurangi kebosanan
(boredom) atau kejenuhan dan dapat melakukan subtitusi kerja lainnya
jika
karyawan yang ber-sangkutan absen.
Ditinjau dari segi manajemen adalah menguntungkan dalam segi
pengkoordinasian karena setiap karyawan mengerti akan keterkaitannya dan
tugas-tugas rekan kerjanya yang lain. Dengan cara tersebut akan didapat
karyawan yang bersifat multifungsi. Jika karyawan diarahkan kepada
pekerjaan yang bersifat Spesialisasi saja maka akan muncul hal-hal
negatif
antara lain adalah kesulitan dalam mengkoordinasi karena timbulnya
blok-blok atau pengkotakan antar job-nya masing-masing, tidak ada sifat
gotong-royong dalam bekerja, antara karyawan tidak ada sifat kepedulian,
dll.
c. Creativity
Jika wewenang, tanggung-jawab, job, dan flexibility sudah dimiliki
setiap
karyawan tetapi kreativitas belum tersalurkan maka akan muncul
kejengkelan
atau unek-unek dari karyawan tersebut. Untuk itu perlu adanya penyaluran
kretivitas apakah dalam bentuk Urun rembug, brainstorming, atau yang
lainnya. Dengan demikian akan terbentuk suatu Demokrasi dalam sistem
produksi.
Sebagai penutup dapat dikatakan bahwa JIT sebenarnya berakar pada
ilmu-ilmu
barat. JIT dapat berjalan dan berhasil di Jepang karena didukung oleh
budaya
jepang yang sesuai. Jadi secara tidak langsung Jepang dapat memilih dan
membudidayakan budaya asing yang baik untuk disesuaikan dan dikembangkan
menjadi budayanya.
MSY
IPOMS
Langganan:
Postingan (Atom)