Rabu, 27 Agustus 2008
MySpirit : Fokus Pada Tujuan Yang Pasti
Pada usianya yang ke-34, Florence Chadwick memiliki tujuanuntuk menjadi wanita pertama
yang berhasil berenang dari Pulau Catalina menujupesisir California. Jutaan Orang menyaksikan
usahanya tersebut melalui pesawat televise pada tanggal 4 Juli 1952. Florence terlihat berjuang di hamparan lautan yang
kelihatannya seperti padang es yang tak bertepi dan yang dikelilingi kabut yang
sangat tebal. Begitu tebalnya kabut itu sehingga bahkan ia tidak dapat melihat
perahu yang mengawalnya. Ibu dan pelatihnya berada dalam perahu itu sambil
terus memberian dorongan dengan berteriak: “Ayo, sedikit lagi sudah hamper sampai
!†Florence terus berjuang untuk melawan air laut yang dinginnya menembus kulit
sambil menghindari ikan-ikan hiu yang berenang kearahnya. Ikan-ikan hiu itu
hanya dapat diusir melalui tembakan senapan.
Hampir 16 jam lamanya Florence berenang tampa henti, hingga
suatu saat… ketika jarak yang ditempuhnya tinggal kira-kira 800 meter lagi,
Florence menyerah dan minta untuk ditarik ke perahu. Badannya menggigil sampai
beberapa saat kemudian ia baru dapat memberikan jawabannya kepada seorang
reporter yang menanyakan alasannya berhenti: “Begini, saya tidak mencoba
membela diri tetapi seandainya saja saya dapat melihat daratan, mungkin saya
akan berhasilâ€. Yang membuat Florence berhenti bukanlah air laut yang dingin
yang menusuk kulit atau kelelahan, melainkan kabut yang menghalanginya untuk
melihat tujuannya.
Tetapi, Florence tidak enyerah begitu saja. Dua bulan
kemudian ia mencobanya sekali lagi. Kabut di sekelilinginya sama tebalnya
seperti dua bulan yang lalu, namun kali ini ia berenang dengan penuh keyakinan sambil
membayangkan dengan jelas tujuan yang pasti yang akan dicapainya. Ia tidak bisa
melihat dengan matanya, tetapi ia bisa melihat dengan pikirannnya. Dengan pasti
ia menggambar dengan pikirannya bahwa dibalik kabut itu pasti ada daratan dan …
kali ini ia berhasil! Sekarang Florence Chadwick telah menjadi wanita pertama
uyang berhasil menyeberangi selat Catalina melampaui rekor yang telah dibuat oleh
seorang perenang pria dengan selisih waktu dua jam. Dan menjai wanita pertama
yang berhasil berenang menyeberangi Selat Inggris bolak-balik.
Pesan :
Dalam hidup kita, setiap orang pasti punya tujuan hidup yang
harus dicapai. Tetapi sering kali kita berhenti atau menyerah pada
ringtangan-rintangan/ kabut yang membuat kita tidak focus atau tidak bisa
melihat lagi dengan jelas tujuan kita yang pasti. Sering kali pada saat kita
menyerah, pada saat kita berhenti mengejar tujuan kita.. sebenarnya itu sudah
sangat dekat dangan kesuksesan â€" tujuan kita. Oleh sebab itu, kita harus buat
komitmen untuk tetap focus pada tujuan yang pasti, tidak menyerah pada
rintangan di depan, miliki keyakinan yang kuat bahwa sukses pasti kita raih,
berjuanglah terus maka Anda pasti menjadi pemenangnya.
“Jangan pernah memalingkan
mata Anda sedetikpun dari garis finish†-Rudy Lim
Salam Sukses, Sehat, Kaya & Bahagia...
Rudy Lim
www.rudylim.com
WHY TO MOVE
WHY TO MOVE
Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, "Bill Gates" dari India (terbitan Mizania 2007).
Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro, dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri teknologi informasi di India. Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana.
Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.
Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.
Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita- berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat.
Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru", katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini.
Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules.
Penemuannya adalah sebagai berikut:
Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules.
Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda terlebih dahulu.
Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya.
Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit. Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos. Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti – biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan orang seperti kamu. Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan.
Demikian pesan Azim Premji. Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan) ?
Cara Jitu Mencari Jodoh
Seorang pemuda yang usianya hampir 40 tahun, gelisah bukan kepalang. Orang tuanya sudah merindukan cucu namun pemuda ini malah belum mendapatkan pendamping. Banyak wanita yang sudah ditaksir tapi selalu saja cintanya kandas. Sebagai langkah terakhir, datanglah ia ke Aa' Gym untuk meminta nasehat. "Aa, sebenarnya saya malu datang ke Aa' tapi karena orang tua saya sudah memaksa saya untuk cari jodoh saya minta nasehat ke Aa', kata pemuda.
Dengan nada lembut Aa' menjawab; "jodoh seperti apa yang kamu harapkan". Sang pemdua langsung menjawab, "cantik, kaya raya, punya pekerjaan, gesit, langsing, dan agamanya bagus". Aa' Gym yang biasa menjawab atau menjelaskan sesuatu dengan kiat-kiat ringkas, misalnya 3M (mulailah dari diri sendiri, mulailah dari sekarang, dan mulailah dari yang kecil) kali ini juga menjawab, "kalau kamu ingin punya jodoh seperti itu mah gampang, kamu harus melakukan 3B."
"B yang pertama, Berdoa, kata Aa'". Sang pemuda menjawab. "hampir setiap hari saya sudah berdoa untuk mendapatkan jodoh yang seperti itu Aa'. "Kalau gitu lakukan B yang kedua, Berusaha", tambah Aa Gym. Dengan sigap sang pemuda itu menjawab, "Itu mah setiap hari sudah saya lakukan Aa", tapi nggak juga berhasil. Gagal melulu. "Ya udah, kalau gitu lakukan B yang ketiga", kata Aa Gym.
Aa" Gym diam sejenak. Sang pemuda tak sabar mendengar penjelasan Aa Gym. Karena kehilangan kesabaran sang pemuda itu bertanya, "Apa B yang ketiga Aa'. Dengan menghela napas panjang Aa' Gym menjawab, "Bercermin".
(Maaf ya Aa" namanya dicatut, semoga menghibur dan kiat tersebut murni bukan dari Aa' Gym, Imajinasi belaka untuk menghilangkan kepenatan hidup)
Salam Sukses Mulia
Jamil Azzaini
Penulis Buku Kubik Leadership & Buku Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia
Cara Jitu Mencari Jodoh
http://jamil.niriah.com
KETIKA WAKTUNYA PULANG
Oleh: Eko Jalu Santoso, www.ekojalusantoso.com
Sebelum kita manusia dilahirkan di dunia, sesungguhnya kita adalah makhluk spiritual murni yang suci dan berada di tempat ketinggian. Ketika dilahirkan di dunia, kita adalah makhluk spiritual dan sekaligus makhluk fisik yang sempurna. Dengan bekal kesempurnaan itu kita manusia diberi kesempatan sejenak untuk berkelana menikmati indahnya perjalanan kehidupan dunia. Namun, pada waktunya nanti, kita semua manusia akan dipanggil kembali untuk pulang menghadap Tuhan Sang Pencipta. Kemudian akan dipertanyakan apa yang sudah dilakukannya selama sejenak perjalanannya di dunia dan itulah yang akan menjadi bekalnya dalam perjalanan spiritual selanjutnya.
Ketika kita hidup di dunia, sesungguhnya kita manusia bagaikan anak-anak kecil yang sedang diberi kesempatan oleh sang Ibu untuk bermain-main di halaman rumahnya. Tuhan ibaratnya adalah Ibu kita, sedangkan halaman rumah ibaratnya adalah dunia luas milik Tuhan. Adabegitu banyaknya hamparan permainan di halaman rumah Tuhan dan kita manusia diberi kebebasan untuk menikmatinya. Namun salah satu pesan Tuhan adalah agar manusia memilih permainan yang bersih dan suci, agar pada saatnya kembali ke rumah Tuhan nanti dalam keadaan bersih dan suci. Karena Tuhan adalah Dzat Yang Maha Suci.
Namun karena asyiknya bermain di halaman rumah Tuhan, seringkali kita manusia lupa diri dan melanggar pesan Tuhan tersebut. Kita bermain-main di tempat yang kotor dan mengabaikan pesan larangan-larangan yang sudah ditetapkan Tuhan. Begitu banyaknya godaan kenikmatan dan permainan di dunia, seringkali membuat kita lupa diri lebih memperturutkan hawa nafsu dengan mengabaikan pesan larangan-larangan Tuhan.
Ketika tiba waktunya, maka Tuhan akan memanggil kembali kita untuk pulang ke rumahnya. Tuhan adalah Dzat Yang Maha Suci, maka rumahnya adalah rumah suci, untuk kembali memasuki rumahnya diperlukan kesucian diri kita. Seperti halnya anak kecil yang bermain kotoran tadi, maka ada dua cara untuk mensucikan diri. Pertama dengan berusaha mensucikan diri sendiri sebelum memasuki rumah Illahi, dengan selalu melakukan perbuatan dan tindakan yang tidak melangar larangan Tuhan. Kedua, karena begitu sayangnya Tuhan kepada kita, seperti seorang Ibu yang memandikan dulu anaknya sebelum memasuki rumah sucinya.
Sakit adalah salah satu cara Tuhan untuk memandikan manusia atau mensucikan kita manusia yang disayanginya, sebelum dipanggil kembali memasuki rumah sucinya. Allah SWT menghendaki datangnya musibah seperti rasa sakit pada seseorang tidak lain sebagai penghapus dosa hamba-hambanya. Nanti di akhirat ada dosa yang tak diperhitungkan lagi karena hukumannya sudah ditunaikan Allah SWT di dunia, demikian salah satu nasehat yang pernah saya dengar dari seorang ulama.
Kembali saya teringat sebuah hadist yang mengatakan, "Apabila Allah SWT menghendaki kebaikan bagi hamba-hambanya, maka didahulukan baginya hukuman di dunia dan bila Allah SWT menghendaki keburukan, maka dibiarkan dengan dosa-dosanya, sehingga dosa-dosanya itu dibalas pada hari kiamat." Maka ketika beberapa tahun lalu ayah saya mulai didiagnosa menderita penyakit lemah jantung hingga pernah harus dirawat di ICCU, mungkin inilah yang dimaksudkan dalam hadits tersebut diatas. AllahSWTmenyayangi ayah saya dan menghendaki kebaikannya, sehingga diberilah rasa sakit untuk mensucikan sebelum memanggilnya kembali ke rumah suciNya.
Saya bersyukur Tuhan masih memanjangkan umur bapak sehingga kami semua masih diberi kesempatan untuk berkumpul dengannya. Kemudian tepatnya pada tanggal sepuluh bulan limatahun duaribu delapan lalu, setelah kembali menderita sakit beberapa hari, bapak dipanggil pulang ke Rahmatullah. Begitulah rupanya cara Tuhan mempersiapkan bapak untuk memasuki rumah suci-Nya agar dalam keadaan bersih dan suci, kembali menghadap Sang Illahi.
Kita manusia sebaiknya menyadari hanyalah mahkluk kecil dan sangat kecil di permukaan bumi ini, kalau dihadapkan pada kebesaran Allah Tuhan Yang Maha Menguasai Alam Raya. Kita manusia hanyalah makhluk lemah dan tak berdaya di permukaan dunia ini, kalau dihadapkan pada kekuasaan Allah Tuhan Yang Maha Besar. Tidak ada artinya itu kekuasaan manusia di dunia, tidak ada nilainya itu harta kekayaan manusia di dunia, tidak ada itu artinya ilmunya di dunia, kalau dibandingkan dengan kekuasaan, kekayaan dan kebesaran Allah Tuhan Yang Maha Menguasai Kehidupan.
Pada waktunya tiba, semua itu harus kita tinggalkan untuk menghadap kepada Tuhan. Tidak ada cara untuk menghadapinya, selain keikhlasan, kebersihan, kesucian dan kepasrahan hati. Tidak ada bekal untuk menghadap-Nya selain amal ibadah dan kesucian diri. Itulah ketentuan yang sudah ditetapkan di setiap pundak manusia. Karena setiap yang bernyawa akan merasakan mati, setiap yang berjiwa akan merasakan mati, maka lebih baik mempersiapkan diridengan keikhlasan, kesucian dan kepasrahan untuk menghadapinya. SEMOGA BERMANFAAT.
Ditulis untuk mengenang berpulangnya ke Rahmatullah ayah kami tercinta Bpk. Salam Siswo Sugiarto, pada Tanggal 10 Mei 2008 di Yogyakarta.
***Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesiadan Penulis Buku "The Art of Life Revolution" dan buku "Heart Revolution: Revolusi Hati Nurani Menuju Kehidupan Penuh Potensi", Keduanya Diterbitkan Elex Media Komputindo.
Motivation of The Day : " Saat Nyawa Tercabut "
Posted by: "Rahardi, Mohamad Rian" Mohamad-Rian.Rahardi@standardchartered.com misterry18
Tue May 27, 2008 9:47 pm (PDT)
Sahabatku,
Kehidupan manusia di dunia, tak ubahnya sebuah perjalanan yang pasti ada
akhirnya. Dan tahukah sahabat apa yang akan menjadi akhir dari
perjalanan kita di dunia ini - untuk selanjutnya memulai sebuah
perjalanan baru ke negeri yang masih asing? Itulah kematian.
Kematianlah, akhir kisah hidup kita di dunia.
Lalu, adakah kita siap menjumpainya ketika malaikat pencabut nyawa sudah
datang menjemput? Adakah kita siap ketika kain kafan akan membungkus
tubuh kita? Adakah kita siap ketika tubuh kita akan diturunkan ke liang
lahat? Ketika papan-papan menutup jasad, ketika gumpalan tanah menimbun,
apakah kita siap? Ingatlah kita pasti mati. Kita pasti berpisah dengan
ibu bapak kita. Merekakah yang akan berpulang lebih dulu? Ataukah malah
kita yang mendahului mereka? Kita pasti berpisah dengan orang orang yang
kita cintai / sayangi. Betapapun kita teramat sayang kepada mereka,
Allah pasti membuat kematian yang akan mengakhiri segalanya.
"Kullu nafsin dzaa iqatul maut," [QS. Ali Imran (3) ; 19) demikian Allah
Azza wa Jalla menegaskan. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati!
Dan sakaratul maut itu sakit sekali, kambing saja yang tidak mempunyai
dosa apapun, ketika disembelih, Allah memperlihatkan kepada kita, betapa
sulitnya ia meregang nyawa. Ayam adalah mahluk Allah yang selalu
bertasbih, dan karena itu ia bersih dari dosa. Tetapi, ketika disembelih
betapa ia menggelepar-gelepar tanda teramat sakitnya melepas nyawa.
Sahabat,
Kita pun demikian halnya. Semakin busuk diri kita ketika hidup, mungkin
saat-saat tercerabutnya nyawa dari badan akan merupakan saat-saat yang
teramat pahit dan menderita. Tubuh ini laksana dibelit kawat berduri
yang menghunjam ke setiap bagian otot, kemudian ditarik, sehingga
tercabik-cabik dan tercerabut dari tulang.
Kita pasti akan meninggalkan segala yang apa kita cintai. Hanya kain
kafan yang menemani. Mungkin saat-saat kita meninggal, orang-orang
menangis, tapi mungkin juga sebaliknya, menertawakan. Jasad yang
terbujur kaku pun dengan tanpa daya diusung orang menuju liang kubur.
Ya, disanalah rumah terakhir kita. Tidak ada yang kita bawa. Kita akan
dibaringkan menghadap kiblat. Kain kafan dibuka sedikit pada wajah kita
agar menyentuh tanah. Papan-papan pun akan mempersempit ruang lahat.
Kemudian, pelan-pelan tanah akan menutup dang menghimpit, hingga tak ada
sedikit pun ruang yang tersisa. Mungkin yang akan menimbunkan tanah itu
justru orang-orang yang paling kita cintai.
Semakin lama semakin gelap dan pekat. Kita tak lagi mempunyai teman,
selain amal baik. Harta, pangkat, jabatan, yang mati-matian kita cari
sampai tidak ingat shalat, tidak ingat shaum, tidak ingat zakat.
Semuanya tidak ada yang mampu menolong kita. Bahkan mungkin tumpukan
harta yang kita tinggalkan malah memperberat kita karena dipakai maksiat
oleh anak dan keturunan kita.
Sahabat,
Saat itulah kita akan mempertanggungjawabkan segala apa yang pernah
diperbuat di dunia. "Hai dungu," demikian mungkin kita disergah.
"Mengapa engkau begitu zhalim kepada dirimu sendiri? Kepalamu tidak
pernah kau gunakan untuk bersujud. Yang melingkar-lingkar dalam otakmu
hanya urusan dunia belaka. Padahal ternyata semua itu tidak bisa kau
bawa. Tanganmu berlumur aniaya, sedang berderma menolong sesama tidak
pernah ada. Matamu bergelimang maksiat, sedang Al-Qur'an tidak pernah
kau singkap dan kau lihat. Di telingamu hanya berdenging musik sia-sia
dan kata-kata penuh maksiat, sedang kebenaran tak sedikit pun kau simak
meski sesaat. Kenapa keningmu hanya kau dongakkan penuh keangkuhan,
tetapi tidak sekalipun kau letakkan di atas sajadah kepasrahan?"
Mungkin saat itulah kita melolong-lolong menjerit penuh penyesalan.
Ketika itulah akan kita rasakan gemeretaknya tulang-belulang di sekujur
tubuh hancur luluh dihimpit oleh kubur yang teramat benci kepada jasad
yang sarat bergelimang dosa.
Sahabat,
Ketahuilah bahwa kematian itu pasti, dan siksa kubur pun pasti bagi
orang yang tidak mempersiapkan diri.
Baca juga artikel motivasi lainnya hanya di :
http://www.beraniegagal.com
Rabu, 20 Agustus 2008
Menjadi Pemimpin Sejati
"Seorang pemimpin adalah seseorang yang melihat lebih banyak dari pada
yang dilihat orang lain, yang melihat lebih jauh dari pada yang dilihat
orang lain, dan yang melihat sebelum yang lainnya melihat." Levoy Eims,
penulis buku Be The Leader You Were Meant To Be.
Levoy Eims mencoba memberikan gambaran tentang seorang pemimpin sejati.
Kita semua sangat membutuhkan seorang pemimpin sejati guna membangun
budaya positif, kemajuan dan prestasi dalam berbagai bidang kehidupan;
misalnya dalam bisnis, organisasi atau sosial masyarakat. Melalui kisah
tentang dua orang penjelajah kutub selatan berikut ini kita akan mencoba
meneladani bagaimana sosok pemimpin sejati yang sesungguhnya.
Dikisahkan bahwa kutub utara telah berhasil ditahklukkan pada tanggal 6
April 1909 oleh kelompok penjelajah pimpinan Robert E. Peary (1856-1920)
asal Amerika. Berita tentang keberhasilan penjelajahan tersebut segera
tersebar ke seluruh penjuru dunia. Dua orang diantaranya tertarik untuk
menahlukkan kutub selatan, yaitu Roald Amundsen (1872-1928) dari
Norwegia dan seorang pejabat angkatan laut Inggris, Kapten Robert Falcon
Scott.
Kedua orang tersebut berkeinginan untuk mencapai kutub selatan dari rute
yang berbeda. Dikisahkan bahwa tim penjelajah dibawah pimpinan Roald
Amundsen berhasil mencapai kutub selatan pada tanggal 14 Desember 1911,
atau satu bulan lebih cepat dari tim penjelajah pimpinan Robert Falcon
Scott. Selanjutnya tim penjelajah pimpinan Amundsen berhasil kembali
pulang dengan selamat. Sedangkan berita menyedihkan datang dari tim
penjelajah pimpinan Scott, karena semua anggota tim termasuk dirinya
sendiri tewas dalam perjalanan pulang dari kutub selatan.
Mengapa dapat terjadi, dua tim yang sama-sama menghadapi tantangan berat
selama menembus kutub selatan mencapai hasil yang bertolak belakang?
Banyak kalangan menilai bahwa kegagalam tim Scott maupun keberhasilan
tim Amundsen sangat ditentukan oleh pola kepemimpinan masing-masing
diantara mereka. Dari sanalah kita mencoba mencermati bagaimanakah pola
kepemimpinan masing-masing diantara mereka untuk mengetahui apakah
mereka termasuk pemimpin yang ideal atau tidak.
Di Inggris, Scott dikenal mempunyai kemampuan memimpin yang luar biasa.
Visi dan misi yang ingin ia capai bersama tim penjelajah juga jelas,
yaitu mencapai kutub selatan dan pulang dengan membawa keberhasilan.
Untuk mencapai visi dan misi tersebut ia juga melakukan berbagai
persiapan.
Diceritakan bentuk persiapan Scott antara lain adalah menyediakan sebuah
kereta luncur bermesin ditambah dengan beberapa ekor anak kuda. Ia
bersama timnya juga menyediakan pos-pos persediaan makanan di sepanjang
rute yang akan mereka lalui. Tetapi bagaimana kelanjutan kisah mereka
dan penyebab utama sehingga semua anggota tim termasuk Scott sendiri
tewas dalam perjalanan pulang dari kutub selatan ?
Semua kisah dan kendala yang harus mereka hadapi terungkap dalam
surat-surat tulisan Scott yang diketemukan di dalam tubuhnya beberapa
bulan setelah kematiannya. Surat-surat tersebut kemudian disimpan oleh
Philippa Scott, putra tunggal Scott. Philippa Scott yang meninggal dunia
pada tahun 1989 itu menghadiahkan surat-surat milik Scott kepada Scott
Polar Research Institute di Universitas Cambridge.
Scott Polar Research Institute di Universitas Cambridge memamerkan
surat-surat Scott kepada khalayak umum pada tanggal 17 Januari 2007.
Dalam surat tersebut diketahui bahwa kendala serius mulai muncul ketika
kereta luncur bermesin itu rusak pada hari ke-5 penjelajahan dimulai.
Scott menulis bahwa cadangan tenaga dari anak-anak kuda tak lagi dapat
diandalkan. Pasalnya, anak-anak kuda itu tak mampu bertahan dalam cuaca
dingin, sehingga anggota tim Scott terpaksa membunuh anak-anak kuda itu
di kaki gunung Transantarctic.
Setelah itu semua anggota tim terpaksa bahu-membahu menarik kereta
luncur seberat 200 pon. Sementara pos-pos persediaan makanan yang sudah
dipersiapkan ternyata lokasinya sangat sulit dijangkau. Tim Scott
benar-benar kesulitan menemukan pos-pos makanan itu. Sehingga tenaga
mereka terkuras.
Sedangkan cuaca yang sangat dingin menyebabkan stamina tim penjelajah
pimpinan Scott menurun drastis. Terlebih mereka kurang memperhitungkan
kesiapan peralatan penjelajahan, terutama kaca mata. Tak mengherankan
jika dalam penjelajahan tersebut anggota tim Scott mengalami kendala
kesehatan serius, misalnya; dehidrasi, mata hampir buta, kedinginan,
kelaparan, dan keracunan dalam darah.
Di sisi lain, Amundsen sebagai pemimpin juga mempunyai visi yang jelas
dan tidak berbeda dengan visi yang ingin dicapai tim Scott. Bedanya,
Amundsen melakukan perencanaan yang sangat teliti dan persiapan yang
matang, termasuk mempelajari metode-metode kaum Eskimo serta penjelajah
Arctic lain yang sudah berpengalaman. Salah satu bentuk persiapan mereka
antara lain adalah kereta luncur yang ditarik oleh beberapa ekor anjing.
Kekuatan anjing-anjing itu dalam sehari maksimal hanya 6 jam atau
sekitar 20 mil perjalanan.
Tim pimpinan Amundsen juga menyiapkan pos-pos yang menyediakan makanan
dan minuman cukup banyak dan lokasinya mudah dijangkau. Dengan demikian,
tim Amundsen tidak kesulitan mendapatkan persediaan makanan di sepanjang
perjalanan. Lagipula mereka tak perlu membawa beban terlalu berat.
Selain itu, Amundsen melengkapi timnya dengan peralatan penjelajahan
terbaik dan lengkap.
Dari sana kita dapat melihat bahwa sudah menjadi tugas pemimpin untuk
menentukan arah tim atau organisasi yang ia pimpin. John C. Maxwell
mengatakan, "Ibaratnya siapapun dapat mengemudikan kapal, namun hanya
pemimpin yang dapat menentukan arahnya." Sosok pemimpin seperti Amundsen
maupun Scott sebenarnya sudah mampu memainkan peran mereka sebagai
pimpinan, terbukti mereka berdua sudah mampu merumuskan visi dan misi
yang hendak mereka capai.
Tetapi seorang pemimpin tak hanya perlu menciptakan visi dan misi,
melainkan merumuskan realita yang ada, termasuk kekurangan dan kekuatan
yang ada dalam tim, organisasi, negara dan lain sebagainya. Selain itu,
seorang pemimpin ideal akan sangat menghargai perbedaan maupun
kekurangan masing-masing fungsi sekaligus menciptakan harmonisasi
sehingga elemen-elemen yang ada saling mensinergi kemajuan. Seorang
pemimpin juga dituntut untuk peka dan mampu memperhitungkan segenap
potensi yang ada untuk menciptakan pertumbuhan dan merealisasikan visi
dan misinya menjadi kenyataan.
Scott tidak mempunyai kualitas sebagai pemimpin ideal sebagaimana
disebutkan di alenia di atas. Ia tidak peka dan tidak mampu
mengharmoniskan potensi yang ada di dalam timnya untuk mencapai visi dan
misi. Dikisahkan sesaat sebelum berangkat, Scott secara sepihak
memutuskan menambah satu orang, yaitu rekannya sendiri, kedalam tim
penjelajahan menjadi 5 orang. Padahal bekal ketersediaan bahan makanan
tim tersebut hanya cukup untuk 4 orang.
Meskipun mereka berhasil mencapai kutub selatan pada tanggal 17 Januari
1912, tetapi kondisi kesehatan para anggota tim Scott sangat lemah dan
kelaparan. Melihat kondisi seperti itupun Scott masih berkeras agar
timnya membawa pulang 30 pon spesimen geologi. Tindakan Scott itu jelas
semakin membebani para anggota timnya, sekaligus membuktikan bahwa ia
bukanlah pemimpin yang cukup peka. Padahal kepekaan terhadap kerinduan,
keinginan, harapan dan kemauan para anggota tim merupakan salah satu
faktor penentu keberhasilan dalam memimpin.
Tindakan Scott yang tidak peka benar-benar fatal hingga menewaskan semua
anggota tim termasuk dirinya sendiri. Dalam sebuah cacatan harian, Scott
menuliskan penyesalannya, "It is a terrible disappointment, and I am
very sorry for my loyal companions. ? Ini merupakan kekecewaan yang
begitu dalam, dan saya sangat menyesalkan tindakan saya terhadap
rekan-rekan yang sudah begitu setia (para anggota dalam tim
penjelajahannya)." Tragedi yang menimpa semua anggota tim diakibatkan
Scott lebih mengutamakan egonya sendiri. Hal itu mencerminkan
ketidakmampuan Scott menjadi pemimpin sejati.
Kesimpulan tentang kualitas pemimpin ideal sebenarnya senada dengan
pendapat Patricia Patton, seorang konsultan profesional. "It took a
heart, soul and brains to lead a people ??, - Untuk memimpin orang lain
dibutuhkan totalitas pengabdian dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran,"
katanya. Dengan demikian seorang pemimpin sejati tak hanya harus
memiliki kecerdasan intelektual, melainkan kecerdasan emosional.
Daniel Goleman kemudian mengelompokkan tipe pemimpin kedalam 6 golongan,
yaitu visionary (memiliki visi), coaching (mendidik), affiliate
(mengedepankan keharmonisan dan kerja sama), democratic (menghargai
pendapat orang lain), pacesetting (memberikan contoh dan tindakan),
commanding (tegas dan berani mengambil resiko). Namun tipe pemimpin
paling ideal menurutnya adalah mereka yang mampu menerapkan ke-6 tipe
tersebut sesuai dengan kebutuhan secara benar dan tepat.
Selama ini kualitas pemimpin sejati dianggap sebagai bakat yang tumbuh
dalam diri seseorang secara alamiah. Tetapi sebenarnya kemampuan menjadi
pemimpin sejati dapat dilatih, khususnya untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi, berpikir dan bertindak positif, membangun jaringan dan
kerjasama, menetapkan target-target, berempati, dan lain sebagainya.
Artinya, siapapun dapat tampil sebagai pemimpin sejati yang menjadi
dambaan semua orang dan berperan siginifikan sebagai pelopor untuk
membangun kehidupan kita semua, asalkan ada kemauan dan upaya yang
sungguh-sungguh untuk melatih diri misalnya melalui seminar, pelatihan,
belajar dari pemimpin yang sukses maupun sejarah kebijakan mereka dan
lain sebagainya.
<oleh Andrew Ho>
Posted by: rumadi@yahoo.com
Walisanga dari China?
Suara Merdeka
Walisanga dari China?
Ditulis Oleh Wal Suparmo
28-02-2008,
Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari jasa Walisanga (wali sembilan). Banyak versi mengenai kisah para wali ini, salah satunya versi yang menyatakan mereka berasal dari China. Tahun 1968, Profesor Slamet Mulyana menulis versi yang tidak populer itu dalam bukunya "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara", namun dilarang beredar karena dinilai dapat memicu perdebatan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antaragama).
Menurut Mulyana, orang yang mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa, yakni Chen Jinwen atau yang lebih dikenal dengan Raden Patah alias Panembahan Tan Jin Bun / Arya (Cu-Cu). Ia lah pendiri kerajaan Demak di Jawa Tengah.
Walisanga dibentuk oleh Sunan Ampel pada tahun 1474. Mereka terdiri dari sembilan orang wali; Sunan Ampel alias Bong Swie Ho, Sunan Drajat alias Bong Tak Keng, Sunan Bonang alias Bong Tak Ang, Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang, Sunan Gunung Jati alias Du Anbo-Toh A Bo, Sunan Kudus alias Zha Dexu-Ja Tik Su, Sunan Muria Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/ Tan Eng Hoat, dan Sunan Giri yang merupakan cucu dari Bong Swie Ho.
Sunan Ampel (Bong Swie Ho) alias Raden Rahmat lahir pada tahun 1401 di Champa (Kamboja). Saat itu, banyak sekali orang Tionghoa penganut agama Muslim bermukim di sana. Ia tiba di Jawa pada 1443. Tiga puluh enam tahun kemudian, yakni pada 1479, ia mendirikan Mesjid Demak.
Belanda, yang sempat 'berperang' dengan para wali itu sempat tidak mempercayai bahwa sultan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa. Untuk memastikannya, pada 1928, Residen Poortman ditugaskan oleh pemerintah Belanda untuk menyelidikinya. Poortman lalu menggeledah Kelenteng Sam Po Kong dan menyita naskah berbahasa Tionghoa. Ia menemukan naskah kuno berusia ratusan tahun sebanyak tiga pedati.
Arsip Poortman ini dikutip oleh Parlindungan yang menulis buku yang juga kontroversial, Tuanku Rao. Slamet Mulyana juga banyak menyitir dari buku ini. Pernyataan Raden Patah adalah seorang Tionghoa ini tercantum dalam Serat Kanda Raden Patah bergelar Panembahan Jimbun, yang dalam Babad Tanah Jawi disebut sebagai Senapati Jimbun. Kata Jin Bun (Jinwen) dalam dialek Hokkian berarti 'orang kuat'. Cucu Raden Patah, Sunan Prawata atau Chen Muming / Tan Muk Ming adalah Sultan terakhir dari Kerajaan Demak. Ia berambisi meng-Islamkan seluruh Jawa, sehingga apabila ia berhasil maka ia bisa menjadi "segundo Turco" (seorang Sultan Turki ke II), sebanding sultan Turki Suleiman I dengan kemegahannya.
Kata Walisanga yg selama ini diartikan sembilan (sanga) wali, ternyata masih memberikan celah untuk versi penafsiran lain. Ada yang berpendapat bahwa kata 'sanga' berasal dari kata 'tsana' dari bahasa Arab, yang berarti mulia. Pendapat lainnya menyatakan kata 'sanga' berasal dari kata 'sana' dalam bahasa Jawa yang berarti tempat.
Kata Sunan yang menjadi panggilan para anggota Walisanga, dipercaya berasal dari dialek Hokkian 'Su' dan 'Nan'. 'Su' merupakan kependekan dari kata 'Suhu atau Saihu' yg berarti guru. Disebut guru, karena para wali itu adalah guru-guru Pesantren Hanafiyah, dari mazhab Hanafi. Sementara 'Nan' berarti berarti selatan, sebab para penganut aliran Hanafiah ini berasal dari Tiongkok Selatan.
Perlu diketahui juga bahwa sebutan 'Kyai' yang kita kenal sekarang sebagai sebutan untuk guru agama Islam, dulu digunakan untuk memanggil seorang lelaki Tionghoa Totok, seperti pangggilan 'Encek'.
Dan, sadar atau tidak, baju muslim yang kerap digunakan oleh laki-laki muslim Indonesia sangat mirip dengan pakaian ala China. Baju Koko dan penutup kepala putih dianggap berasal dari China, karena di negeri asal Islam, Timur Tengah, pakaian ini tidak dikenal.
Sumber:
- D. A. Rinkes "De heiligen van Java"
- Jan Edel "Hikajat Hasanoeddin"
- B. J. O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang
- Utrecht: Den Boer - G.W.J. Drewes, 1969 The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague: Martinus Nijhoff
- De Graaf and Pigeaud "De eerste Moslimse Vorstendommen op Java"
- "Islamic states in Java 1500 -1700".
- Amen Budiman "Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia"
- Prof. Slamet Mulyana "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara
Demikian sebuah nukilan dari sebuah milist Tionghoa...
Belajar 'ILMU KEKAYAAN' Dari Wallace D. Wattles
Belajar 'ILMU KEKAYAAN' Dari Wallace D. Wattles
Betapa pun kemiskinan dikemas rapi dengan kata-kata yang mengharukan atau bahkan diagung-agungkan, faktanya hidup ini tidak mungkin berjalan dan dikatakan sukses jika seseorang tidak memiliki kekayaan.
Setiap orang memiliki hak menjadi kaya jika ia dapat bertumbuh dalam pikiran, jiwa, dan tubuhnya bersama hasrat dan kemauan keras untuk menjadi kaya.
Anda yang kaya adalah seorang yang mampu memenuhi semua yang Anda inginkan, butuhkan, dan bisa menikmati hidup Anda dalam arti seutuhnya.
Ketika Anda mendorong diri untuk mewujudkan kekayaan, berarti Anda sudah dekat dengan kekayaan itu.
Hidup setiap orang pada dasarnya dilandasi oleh tiga motif; yaitu hidup untuk jiwa, tubuh, dan pikiran. Ketiganya sama tinggi.
Manusia tidak mungkin bisa hidup bahagia dan makmur jika tubuhnya tidak dicukupi dengan makanan enak, pakaian bagus, rumah bagus, istirahat yang cukup, rekreasi yang indah, serta terikat kerja keras yang berlebihan.
Setiap orang harus menginginkan kekayaan, dan secara tulus memperjuangkannya agar hadir dalam kehidupan.
Semua bentuk dan wujud kekayaan berasal dari kerja keras, pengetahuan, tindakan, upaya, atau usaha-usaha secara gigih yang terarah benar dan tepat sasaran.
Menjadi kaya adalah bekerja secara terfokus dalam kosentrasi yang konsisten untuk mendapatkan nilai tambah atas setiap usaha yang Anda lakukan.
Mendapatkan modal adalah titik awal menjadi kaya. Dan ingat, modal tidak berarti selalu harus dalam bentuk uang, tapi modal merupakan hasil tanpa pengecualian dari mengerjakan sesuatu di jalan yang tepat dan benar.
Untuk menjadi kaya Anda tidak perlu memonopoli semua peluang yang ada. Biarkan kompetisi sehat lahir agar Anda selalu mampu merawat dan menjaga peluang - peluang yang ada.
Tidak ada orang yang ditakdirkan menjadi miskin, jadi setiap orang tanpa terkecuali memiliki peluang besar untuk menjadi kaya.
Gagasan dan pemikiran untuk menjadi kaya adalah langkah awal menuju keberhasilan keuangan Anda. Bentuklah imajinasi menjadi kaya raya yang kuat dipikiran Anda, kemudian wujudkan imajinasi tersebut dalam realitas.
Pikirkan kesejahteraan ketika dikelilingi oleh hal-hal yang tidak menguntungkan Anda, atau pikirkan kekayaan di tengah keadaan yang penuh dengan cobaan kelaparan, sungguh memerlukan kemauan dan kekuatan mental dan fisik yang lebih. Tetapi bila Anda mampu menjadi penguasa pikiran untuk segala kekayaan. Anda pasti akan menulis takdir Anda menjadi kaya raya.
Anda harus dapat menciptakan sesuatu dari gagasan Anda, dan Anda harus mengaitkan gagasan Anda itu pada substansi tanpa bentuk, Anda pasti dapat menyebabkan sesuatu yang ada dipikiran Anda itu terwujud secara sempurna.
Anda harus memiliki hasrat dalam keinginan kuat untuk mengembangkan hidup. Segala kehidupan harus terus-menerus mencari pengembangan kehidupannya. Sebab, kehidupan Anda pada hakekatnya harus bertumbuh.
Hasrat menjadi kaya sebenarnya hanyalah sebuah keinginan supaya hidup ini dapat lebih memenuhi segala kebutuhan hidup. Setiap hasrat merupakan sebuah kemungkinan yang belum terwujud ke dalam tindakan nyata. Perwujudan dari keberanian dan ketegasan Anda mencari pemenuhan inilah yang memunculkan hasrat. Apa yang membuat Anda menginginkan lebih banyak kekayaan adalah sama dengan apa yang menyebabkan ternak atau tanaman bertumbuh. Setiap kehidupan memang selalu berusaha mencari pemenuhan diri, lebih dari sebelumnya.
Cara mendatangkan kekayaan dalam kehidupan Anda adalah melalui gagasan utuh yang disertai tindakan nyata untuk bekerja keras dengan segala kekuatan mental dan raga Anda.
Jika Anda menginginkan uang satu milyar rupiah, buatlah gambaran mental tentang uang satu milyar itu sepositif mungkin, sampai uang satu milyar itu terasa seolah sedang Anda bekerja keras untuk mendapatkannya dan siap untuk Anda depositokan. Setelah uang satu milyar menjadi keyakinan kuat yang absolut dipikiran Anda, tanpa pernah meragukannya lagi, bahwa uang satu milyar itu memang sedang mengumpulkan diri untuk menjadi milik Anda. Jangan pernah berpikir atau mengatakan sesuatu apa pun yang mengurangi rasa absolut Anda untuk memiliki uang satu miliar. Akuilah uang satu miliar itu memang sudah menjadi milik Anda.
Pastikan Anda selalu hidup dengan rasa absolut bersyukur. Pastikan Anda di arah yang tepat sasaran. Pastikan Anda cerdas menggunakan kekuatan kemauan untuk menjadi kaya. Pastikan hasrat dan perjuangan Anda untuk menjadi kaya tidak berkurang seincipun. Pastikan Anda selalu berpikir dan bertindak di jalan mencari kekayaan yang tepat dan benar. Pastikan Anda selalu bertindak secara efektif dan efisien untuk segala hal dalam hidup Anda. Pastikan Anda menjalankan bisnis Anda secara cermat dan tepat. Pastikan Anda selalu bergerak kearah pertumbuhan kekayaan Anda. Pastikan Anda seorang pribadi yang selalu terbuka untuk menambah wawasan, keterampilan, dan pengetahuan. Pastikan Anda tidak menjadi rakus dan sombong, tapi Anda mampu berbagi dan mendistribusikan kekayaan Anda ke dalam berbagai investasi yang menolong kehidupan orang lain.
by: seismic_yuni@yahoo.com / Yuni
Langganan:
Postingan (Atom)